Senin, 26 Desember 2011

Peran akal dan wahyu menurut Teologi Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
            Teologi sebagai ilmu yang membahas soal ketuhanan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan, memakai akal dan wahyu dalam memperoleh pengetahuan tentang kedua soal tersebut. Akal sebagai daya berpikir yang ada dalam diri manusia, berusaha keras untuk sampai kepada Tuhan, dan wahyu sebagai pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan.
            Dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam umumnya dikenal adanya dua corak pemikiran Islam, yaitu pemikiran kalam yang bercorak rasional dan pemikiran kalam yang bercorak tradisional. Pemikiran kalam yang bercorak rasional adalah pemikiran kalam yang memberikan kebebasan berbuat dan berkehendak kepada manusia, daya kuat kepada akal, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan yang terbatas serta tidak terikat kepada makna harfiah dalam memberi interpretasi ayat-ayat al-Quran. Pemikiran kalam ini akan melahirkan sikap hidup dinamis dalam diri manusia. Faham ini terdapat dalam aliran Mu'tazilah dan Maturidiyah Samarkhan[1]. Sedangkan pemikiran Kalam yang bercorak tradisional adalah pemikiran kalam yang tidak memberikan kebebasan berkehendak dan berbuat kepada manusia, daya yang kecil bagi akal, kekuasaan kehendak Tuhan yang berlaku secara mutlak-mutlaknya serta terikat kepada makna harfiah dalam memberi makna-interpretasi ayat-ayat al-Qur'an.
Faham ini terdapat dalam aliran Asyariyah dan Maturidiyyah Bukhara[2]. Dalam beberapa aliran teologi Islam sebagian ada yang berpendapat bahwa akal manusia bisa sampai kepada Tuhan, yang menjadi persoalan selanjutnya ialah sampai dimanakah kemampuan akal manusia dapat mengetahui Tuhan dan kewajinan-kewajiban manusia? Dan juga sampai manakah besarnya wahyu dalam kedua hal itu?.
Kalau kita selidiki buku-buku klasik tentang ilmu Kalam akan kita jumpai bahwa persoalan kekuasaan akal dan fungsi wahyu ini dihubungkan dengan dua masalah pokok yang masing-masing bercabang dua. Masalah pertama ialah soal mengetahui Tuhan yang bercabang menjadi dua yaitu mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan (husul ma’rifah Allah dan wujud ma’rifah Allah). Masalah kedua yaitu mengenai soal baik dan jahat yang bercabang menjadi dua yaitu mengetahui baik dan buruk dan kewajiban mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan jahat ( ma’rifah al-husn wa al-qubh dan wujub I’tinaq wa ijtinab al-qabh yang juga disebut al-tahsin wa al-taqbih).
Polemik yang terjadi antara aliran-aliran teologi islam yang bersangkutan ialah : yang manakah diantara keempat masalah itu yang dapat diperoleh dengan akal dan yang mana yang melalui wahyu?? Masing-masing aliran memberikan jawabannya masing-masing dan untuk memecahkan masalah tersebut, dalam makalah ini kami akan mencoba menguraikannya.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian tersebut di atas, maka muncullah beberapa persoalan sebagai berikut :
1.      Apa Pengertian Akal dan Wahyu 
2.      Bagaimana Pandangan Beberapa Teologi Islam Mengenai Konsep Peran akal dan Wahyu
C. Tujuan
1.      Mengetahui Pengertian Akal dan Wahyu
2.      Mengetahui Perbedaan Beberapa Pandangan Teologi Islam Tentang  Konsep Peran  Akal dan Wahyu
BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian Akal dan Wahyu
1.Akal

Kata akal sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab al-‘Aqly yang dalam bentuk kata benda, berlainan dengan kata al-wahy, tidak terdapat dalam al-Qur’an. Al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya ‘aqaluuh dalam 1 ayat, ta’qiluun 24 ayat, na’qil 1 ayat, ya’qiluha 1 ayat dan ya’qiluun 22 ayat, kata-kata itu datang dalam arti faham dan mengerti.
Dalam pemahaman Prof. Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliyyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah (problem-solving capacity). Orang berakal, menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah. Bagaimana pun kata ‘aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berfikir. Tapidari sini timbul pertanyaan apakah pengertian, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui akal yang berpusat dikepala? Dalam al-Qur’an sebagai dijelaskan dalam surat al-Hajj ayat  46 yang dikatakan bahwa pengertian, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui kalbu yang berpusat di dada. Sebagaimana ayat berikut :

(محمد:24) أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوْبٍ أَقْفَالُهَا

Artinya :“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci?”.         (Muhammad : 24)
Dan di dalam  ayat yang lainpun menjelaskan juga bahwa tidak disebutkan bahwa akal adalah daya pikir yang berpusat di kepala. Al-‘aql malahan dikatakan sama dengan al-qolb yang berpusat di dada. Memang banyak sekali pendapat-pendapat yang menguraikan tentang pengertian akal. Tapi dalam pandangan Islam, akal tidaklah otak, tetapi daya pikir yang terdapat dalam jiwa manusia, daya yang sebagai digambarkan dalam al-Qur’an, memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya. Akal dalam pengertian inilah yang dikontraskan dalam Islam dengan wahyu yang membawa pengetahuan dari luar diri manusia, yaitu dari Tuhan

2.Wahyu
            Secara etimologi “wahyu” berarti isyarat, bisikan buruk, ilham, perintah. Sedangkan menurut termonologi berarti nama bagi sesuatu yang disampaikan secara cepat dari Allah kepada Nabi-Nabi-Nya.
Dalam pengertian lain, wahyu berasal dari kata arab الوحي, dan al-wahy adalah kata asli Arab dan bukan pinjaman dari bahasa asing, yang berarti suara, api, dan kecepatan. Di samping itu juga mengandung arti bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Selanjutnya mengandung arti pemberitahuan secara sembunyi-sembunyi dan dengan cepat. Tentang penjelasan cara terjadinya komunikasi antara Tuhan dan Nabi-Nabi, diberikan oleh al-Qur’an sendiri. Dalam Islam wahyu atau sabda Tuhan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW terkumpul semuanya dalam al-Qur’an.Salah satunya dejelaskan dalam Surat al-Syura : 51 yang artinya :

“ Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”

B. Konsep Peran Akal dan Wahyu
 Menurut Beberapa Pandangan dalam Aliran-Aliran Teologi Islam

1. Mu'tazilah
           
            Mu'tazilah adalah aliran teologi Islam tertua yang dibangun oleh Washil bin Atha' (80-131H) pada awal abad ke-2H. Bagi kaum mu'tazilah segala pengetahuan dapat diperoleh dengan perantaraan akal, dan kewajiban-kewajiban dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam. Dengan demikian berterimakasih kepada Tuhan sebelum turunnya wahyu adalah wajib[3]. Baik dan jahat wajib diketahui melalui akal dan demikian pula mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk adalah wajib hukumnya.
            Dalam hubungan ini, Abu al-Huzail dengan tegas mengatakan bahwa sebelum turunnya wahyu, orang telah berkewajiban mengetahui Tuhan, dan jika dia tidak berterimakasih kepada Tuhan, orang sedemikian akan mendapat hukuman. Diantara pemimpin mu'tazilah antara lain al-Nazzam juga berpendapat demikian. Begitu pula al-Jubba'i dan anaknya Abu hasyim.
 Menurut al-Syarastani kaum mu’tazilah satu dalam pendapat bahwa kewajiban mengetahui dan berteri makasih kepada Tuhan dan kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk dapat di ketahui oleh akal. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa jawaban kaum Mu’tazilah atas pertanyaan di atas: ke empat masalah itu dapat diketahui oleh akal.
Fungsi wahyu bagi faham Mu’tazilah ada beberapa hal yaitu untuk menyempurnakan pengetahuan akal tentang baik dan buruk,menurut ‘Abd al-jabbar akal dapat mengetahui kewajiban-kewajiban dalam garis besarnya, tetapi tidak sanggup mengetahui perinciannya, baik mengenai hidup manusia di akherat nanti, ataupun mengenai hidup manusia di dunia. Sehingga oleh karena itu ‘Abd al-jabbar membagi perbuatan-perbuatan manusia kedalam manakir’aqliah(perbuatan yang dicela oleh akal, seperti bersikap tidak adil, berdusta, dll) dan (perbuatan yang dicela oleh syari’at, seperti berzina, minum minuman keras dll). Selain itu dia juga membagi kewajiban manusia ke dalam kewajiban yang diketahui akal (al-wajibat al-‘aqliyah), seperti kewajiban berterimakasih kepada Tuhan dan kewajiban-kewajiban yang diketahui melalui wahyu atau syari’at (al-wajibat al-syari’ah) seperti ucapan kalimat syahadat dan shalat. Kemudian fungsi wahyu lainnya yaitu untuk memberi penjelasan tentang perincian hukuman dan upah yang akan diterima manusia di akherat kelak. Akal tak dapat mengetahui  bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih besar lebih besar dari upah untuk suatu perbuatan baik yang lain, demikian pula akal tak dapat mengetahui bahwa hukuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar dari hukuman untuk suatu perbuatan buruk yang lain.dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bagi kaum mu’tazilah wahyu mempunyai fungsi konfirmasi dan informasi, memperkuat apa-apa yang telah diketahui akal dan menerangkan apa-apa yang belum diketahui akal, dan dengan demikian menyempurnakan pengetahuan yang telah diperoleh akal. Fungsi selanjutnya dari wahyu menurut al-Syahrastani adalah untuk mengingatkan manusia akan kelalaian mereka dan memperpendek jalan untuk mengetahui Tuhan. Akal telah tahu pada tuhan dan telah tahu akan kewajiban terhadap Tuhan, dan wahyu datang untuk mengingatkan manusia pada kewajiban itu. Akal dapat ,mengetahui Tuhan, tetapi melalui jalan yang panjang dan wahyu memperpendek jalan yang panjang itu.

2. Asy’ariah
            Pendiri aliran ini adalah Abu hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari (260-324 H/ 873-935 M). Pada mulanya ia adalah murid al-Juba’i, dan menjadi tokoh terkemuka dalam golongan Mu’tazilah dan menyusun suatu teologi sendiri yang bertentangan dengan Mu’tazilah. Aliran inilah yang disebut Asy’ariyah.
Al-asy’ari sendiri menolak sebagian besar dari pendapat kaum Mu’tazilah di atas. Dalam pendapatnya segala kewajiban manusia hanya dapat diketahui melalui wahyu. Akal tak dapat membuat sesuatu menjadi wajib dan tak dapat mengetahui bahwa mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk adalah wajib bagi manusia. Betul kalau akal dapat mengetahui Tuhan, tetapi wahyulah yang mewajibkan orang mengetahui Tuhan dan berterima kasih kepadaNya. Juga dengan wahyulah dapat diketahui bahwa yang patuh kepada Tuhan akan memperoleh upah dan yang tidak patuh kepada-Nya akan mendapat hukuman[4].
            Akal kata Asy’ari, tidak mewajibkan sesuatu, dia tidak pula menuntut supaya menetapkan baik dan buruk. Jelas bahwa dalam faham Asy’ariyah tentang kemampuan akal berbeda jauh dengan faham Mu’tazilah yaitu hanya satu kemampuan akal, yaitu mengetahui adanya Tuhan dan tidak ada hak akal untuk mewajibkam sesuatu. Bagi kaum Asyariyah, karena akal dapat mengetahui  hanya adanya Tuhan saja, wahyu mempunyai kedudukan penting. Jelas bahwa dalam pendapat aliran Asy’ariyah wahyu mempunyai fungsi  banyak sekali. Wahyu menentukan boleh dikata hampir segala persoalan.Sekiranya wahyu tidak ada, manusia akan bebas berbuat apa saja sesuai kehendaknya dan sebagai akibatnya masyarakat akan berada dalam kekacauan. Salah satu fungsi wahyu, menurut al-dawwani ialah member tuntunan kepada manusia untuk mengatur hidupnya di dunia.
 Dari kutipan-kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa menurut pendapat al-Asy’ari akal tak mampu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban manusia. Untuk itulah wahyu diperlukan. Al-Ghazali, seperti al-Asy’ari dan al-Bahdadi, juga berpendapat bahwa akal tak dapat membawa kewajiban-kewajiban bagi manusia; kewajiban-kewajiban di tentukan oleh wahyu. Dengan demikian kewajiban mengetahui Tuhan dan kewajiban berbuat baik dan menjauhi yang jahat hanya dapat diketahui dengan perantaraan wahyu.

3. Al-Maturidiyah
a. Al-Maturidiyah Samarkhan
Maturidiyah adalah aliran teologi yang dinisbahkan kepada al-Maturidi (lengkapnya: Abu Mansyur Muhammad bin Muhammad al-Maturidi)[5]. Tokoh ini lahir di Maturidi, dan wafat di Samarkhan dan tidak diketahui tahun kelahirannya. Diantara ulama-ulama yang mengikutinya, ada tokoh yang bernama al-Bazdawi, yang memiliki paham teologi yang tidak sama dengan Maturidi. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa teologi Maturidiyah bercabang dua, yaitu Maturidiyah Samarkhan, yang teologinya masih sama persis dengan apa yang dikemukakan oleh al-maturidi dan Maturidiyah Bukhara, yang teologinya mengikuti paham Bazdawi.
Menurut paham Maturidiyah Samarkhan, berpendapat hampir sama dengan paham Mu’tazilah mengenai kekuatan akal dan wahyu, kalau mu’tazilah mendapat nilai 4 dalam penggunaan akal maka maturidiyah Samarkhan adalah 3. Perbedaanya adalah, kalau Mu’tazilah menyatakan bahwa pengetahuan Tuhan itu diwajibkan oleh akal (artinya akal yang mewajibkan), maka menurut al-maturidi, meskipun kewajiban itu sendiri datangnya dariTuhan.            
Akal bagi pendapat Maturidiyah Samarkhan, hanya bisa sampai kepada tingkat dapat memahami perintah-perintah dan larangan-larangan tuhan mengenai baik dan buruk dan tidak pada kewajiban berbuat baik dan menjauhi larangan. Bagi Maturidiyah Samarkhan wahyu diperlukan untuk memberitahukan manusia bagaimana cara berterimakasih kepada Tuhan, menyempurnakan pengetahuan akal tentang mana yang baik dan mana yangburuk serta menjelaskan perincian upah dan hukuman yang akan diterima manusia di akherat. Tanpa wahyu masyarakat manusia akan hidup dalam kekacauan.

b. Al-Maturidi Bukhara
Aliran Maturidiyah Bukhara dikemukakan oleh Bazdawi, tokoh Maturidiyah cabang Bukhara. Nama lengkapnya adalah Abu al-Yusr Muhammad al-Bazdawi yang lahir pada tahun 421H dan wafat di Bukhara pada tahun 493H/1099M.[6]
Adanya perbedaan paham antara Maturidiyah Samarkhan dan Maturidiyah Bukhara, disebutkan oleh Abu Uzba. Al-Maturudi sepaham dengan Mu’tazilah, berpendapat bagi maturidiyah Samarkhan kematangan akallah yang menentukan kewajiban mengetahui Tuhan bagi anak dan bukan tercapainya umur dewasa oleh anak itu.Golongan maturidiyah Bukhara tridak mempunyai paham demikian. Dalam paham mereka akal tidak mampu untuk mengetahui sebabnya kewajiban; akal hanya mampu untuk mengetahui sebabnya kewajiban. Sebagaimana kata Abu uzba, akal bagi mereka adalah alat untuk mengetahui kewajiban dan yang menentukan kewajiban adalah Tuhan. Dengan demikian, akal menurut paham maturidiyah Bukhara tidak dapat mengetahui kewajiban-kewajiban dan hanya mengetahui sebab-sebab yang membuat kewajiban-kewajiban menjadi wajib.[7]
Akal dalam Maturidiyah Bukhara mempunyai kedudukan lemah. Wahyulah yang banyak mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk, dan akal tidak dapat mengetahui bahwa manusia wajib menjauhi perbuatan-perbuatan baik. Sekiranya wahyu tidak turun dan nabi tidak diutus manusia akan hidup dalam keadaan tidak mempunyai kewajiban apa-apa terhadap kebaikan dan keburukan dan akibatnya akan timbul kekacauan. Jadi dapat disimpulkan bahwa Maturidiyah Samarkhan lebih dekat kepada Mu’tazilah dibanding Asy’ariyah, sebaliknya Maturidiyah Bukhara lebih dekat kepada Asy’ariyah dibanding kepada Mu’tazilah didalam pemikirannya












BAB III
KESIMPULAN

Dari sejumlah uraian di atas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Kata akal berasal dari kata Arab al-‘Aqly yang artinya mengerti, memahami dan berfikir
Secara etimologi “wahyu” berarti isyarat, bisikan buruk, ilham, perintah. Sedangkan menurut termonologi berarti nama bagi sesuatu yang disampaikan secara cepat dari Allah kepada Nabi-Nabi-Nya.
Polemik yang terjadi antara aliran-aliran teologi Islam yang bersangkutan ialah : yang manakah diantara keempat masalah itu yang dapat diperoleh dengan akal dan yang mana yang melalui wahyu.
Menurut beberapa pandangan Teologi Islam yang memberikan argumennya masing-masing mengenai persoalan-persoalan yang melibatkan peran akal dan wahyu adalah sebagai berikut:
 Menurut kaum Mu’tazilah keempat masalah tadi dapat diketahui dengan akal berbeda dengan paham Asy’ariyah yang mengatakan akal hanya bisa mengetahui pengetahuan saja yaitu mengetahui Allah dan baik dan jahat, sedangkan yang berhubungan dengan kewajiban akal tidak dapat mengetahui dan yang dapat mengetahui adalah wahyu. Kalau menurut paham Maturidiyah Samarkhan ungkapannya hampir mendekati Mu’tazilah hanya saja satu hal yang membedakannya yaitu kewajiban mengetahui baik dan jahat hanya dapat diketahui dengan wahyu. Sedangkan menurut paham Maturidiyah Bukhara ungkapannya hampir sama mendekati Asy’ariyah.
Jadi jika diadakan perbandingan antara keempat golongan ini ditemukan bahwa dua aliran memberikan daya kuat kepada akal, yaitu aliran Mu’tazilah dan Maturidiyah Samarkhan dan dua aliran memandang akal manusia lemah, yaitu aliran maturidiyah Bukhara dan aliran Asy’ariyah.





BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI Press, 1986)
Sumantri.1999.”Buku Ajar Ilmu Kalam”.Surakarta:UMS
http://fillahabadanwahyu.blogspot.com/2011/04/makalah-teologi-islam-analisis-akal-dan.html
Abd al-jabbar Ibn Ahmad, Al-Majmu’ fi al-Muhit bi al-Taklif, Ed.
 J.J. Houban S.J., Vol.I, Beyrouth: L’Institut des Letteres Orientales de Beyrouth, 1965


             Sumantri.1999.”Buku Ajar Ilmu Kalam”.Surakarta:UMS, hal.134
             Ibid


             Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI Press, 1986) hlm.80.


             Ibid hal.82


             Sumantri.1999.”Buku Ajar Ilmu Kalam”.Surakarta:UMS, hal.138



             Ibid hal. 141


             Ibid


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar