Senin, 29 Juni 2020
Senin, 09 Januari 2012
Desain penelitian Sosial Budaya keagamaan"Nilai-nilai Islam dalam budaya Sedekah Bumi
Posted By:
Yasin Achmad
on 21.36
1. TEMA : Budaya
Daerah di Indonesia
2. FOKUS :
Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Sedekah Bumi di Desa Kedung Jaran Kab.Pekalongan
3. RUMUSAN MASALAH :
1.Bagaimana sejarah lahirnya tradisi sedekah bumi di desa
Kedung jaran kab.Pekalongan
2. Bagaimana
bentuk tata cara dari pelaksanaan ritual sedekah Bumi yang
dilestarikan di desa Kedung Jaran kab.Pekalongan?
3. Nilai-nilai Islam
apa yang terkandung dalam tradisi sedekah bumi ?
4. Apa pengaruh
nilai-nilai Islam yang dalam tradisi Sedekah bumi terhadap
perilaku keagamaan masyarakat desa Kedung jaran Kab.
Pekalongan?
4. TUJUAN
PENELITIAN : 1. Menjelaskan
sejarah lahirnya budaya sedekah bumi di desa Kedung Jaran Kab.
Pekalongan
2. Mendriskripsikan
berbagai bentuk dan tata cara dalam ritual sedekah bumi di Desa
Kedung Jaran kab. Pekalongan
3. Menemukan
nilai-nilai Islam yang terkandung dalam tradisi sedekah bumi
4. Menjelaskan
pengaruh nilai-nilai Islam dalam tradisi Sedekah bumi terhadap
perilaku keagamaan masyarakat desa Kedung jaran kab.Pekalongan
5. MANFAAT
PENELITIAN :
1. Manfaat Teoritis
Temuan hasil
penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu
pengetahuan dan kajian lebih mendalam tentang bentuk-bentuk
Budaya yang dilestarikan dalam kehidupan masyarakat serta
menemukan pesan moral yang terkandung didalamnya
2. Manfaat
Praktis
Penelitian ini
diharapkan dapat menjadi sumber yang signifikan dalam
memperoleh informasi dan rekomendasi baik bagi lembaga
masyarakat maupun bagi pemerintah dalam mengambil sebuah
kebijakan-kebijakan.
6. KAJIAN PUSTAKA :
Dari pengamatan
peneliti selama ini, belum ditemukan buku ataupun tulisan yang
berkaitan dengan Nilai-nilai Islam dalam Tradisi Sedekah
Bumi .
Hal ini tidak menyurutkan semangat penulis untuk melanjutkan
penelitian yang kemudian merujuk pada perbandingan pustaka. Dengan
kata lain penulis mencari tema-tema yang relevan dengan tema yang
diangkat antara lain:
Drs. Moh. Rofangi dalam penelitiannya tentang
Sedekahan di Yogyakarta (Suatu study tentang pola interaksi
sosial), sedekah atau shodakoh dimaksudkan untuk mensyukuri nikmat
Tuhan sebab adanya kelahiran dan perkawinan dengan membagikan besek.
Pada ritual upacara kematian, sedekahan dilakukan dengan niat pahala
shodakohnya di limpahkan kepada almarhum agar almarhum dijauhkan dari
siksa kubur. Masyarakat Cangkringan pun demikian, sedekahan mewarnai
norma kesusilaan mereka. Sedekahan bukan hanya sekedar makna
ritual saja, toleransi dan kerukunan beragama adalah hal terpenting
dalam menilai arti sebuah tradisi.
Drs. H. Zarkasyi A. Salam dalam hasil penelitiannya
tentang ritual kematian yang mempunyai makna toleransi dan kerukunan
beragama yang tinggi.
Seperti penelitian yang penulis lakukan, ritual
seputar kematian mempunyai fungsi dan pengaruh yang sarat dengan
norma-norma kehidupan bermasyarakat.
Muhamad Hisyam dalam skripsinya
membahas beberapa aspek akulturasi Islam di Jawa. Di antaranya
tentang rangkaian selametan yang diadakan bertepatan dengan
saat-saat penting di dalam kehidupan (dari masa kehamilan sampai
keseribu sesudah kematian).
Adanya penggunaan
simbol dalam bentuk sesajen
yang menyertai doa-doa berbahasa Arab menjadi bukti adanya akulturasi
Islam di Jawa. Relevansinya dengan tema yang diangkat terletak pada
akulturasi Islam di Jawa. Penggunaan sesajen
sebagai sebuah simbol,
dengan pemaknaan yang mendalam dan penuh kesadaran ataupun hanya
sekedar mengikuti kebiasaan, selalu diikutsertakan dalam
melangsungkan tahlilan dan doa yang tentunya bernafaskan Islami.
Koentjaraningrat dalam bukunya,
memaparkan secara komprehensip tentang kebudayaan orang Jawa
dari akar budayanya sampai dengan ritual dalam lingkaran kehidupan
dari kelahiran sampai dengan kematian. Karya etnografi tersebut
merupakan sumber primer dalam penelitian ini, karena tema yang
diusung oleh penulis juga merupakan bagian dari bahasannya.
Penelitian
ini memfokuskan pada Nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Tradisi
Sedekah Bumi yang
dilestarikan di desa Kedung jaran kab.Pekalongan
7. LANDASAN TEORI
Kebudayaan
cenderung diikuti oleh masyarakat pendukungnya secara turun-temurun
dari generasi ke generasi berikutnya, meskipun sering terjadi anggota
masyarakat itu datang silih berganti disebabkan munculnya
bermacam-macam faktor, seperti kematian dan kelahiran.
Menurut Malinowski dalam Magic, Science and
Religion, (Boston, 1984), hlm. 33-35, kematian merupakan krisis yang
paling atas dan paling akhir, serta krisis yang paling penting.
Kematian menimbulkan dalam diri orang yang berduka-cita suatu
tanggapan ganda cinta dan segan, sebuah ambivalensi emosional yang
sangat mendalam dari pesona dan ketakutan yang mengancam baik
dasar-dasar psikologis maupun sosial eksistensi manusia. Orang-orang
yang berduka-cita ditarik ke arah almarhum oleh rasa kasih sayang
kepadanya, disentakkan belakang darinya oleh perubahan yang
ditimbulkan oleh kematian. Ritus-ritus pemakaman, dan praktik-praktik
duka-cita yang menyertainya, berpusat di sekitar hasrat paradoksal
ini baik untuk memelihara ikatan berhadapan dengan kematian maupun
dengan segera dan sama sekali memutuskan ikatan itu, dan menjamin
dominasi kehendak untuk hidup atas kecendrungan untuk berputus-asa.
Ritus-ritus kematian menjaga kelangsungan kehidupan manusia dengan
mencegah orang-orang yang berduka-cita dari penghentian entah
dorongan untuk lari terpukul-panik dari keadaan itu atau sebaliknya,
dorongan untuk mengikuti almarhum ke kubur.
Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologis,
yaitu pendekatan yang menggunakan nilai-nilai yang mendasari perilaku
tokoh sejarah, status dan gaya hidup, sistem kepercayaan yang
mendasari pola hidup dan sebagainya. Dengan
pendekatan ini, penulis mencoba memaparkan situasi dan kondisi
masyarakat yang meliputi kondisi sosial budaya dan kondisi
keagamaannya. Antropologi memberi bahan prehistoris sebagai pangkal
bagi tiap penulis sejarah. Kecuali itu, konsep-konsep tentang
kehidupan masyarakat dikembangkan oleh antropologi, akan memberi
pengertian untuk mengisi latar belakang dari peristiwa sejarah yang
menjadi pokok penelitian. Pendekatan
antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu
upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang
tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.
Teori adalah kreasi intelektual, penjelasan
beberapa fakta yang telah diteliti dan diambil prinsip umumnya. Dalam
Poerwadarminta, teori adalah asas-asas dan hukum-hukum umum yang
menjadi dasar sesuatu kesenian atau ilmu pengetahuan. Teori yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teori Hermeneutik oleh Wilhelm
Dilthey (1833-1911), seorang filsuf Jerman yang menaruh perhatiannya
pada sejarah dan lebih banyak dikenal dengan riset-riset historisnya.
Dilthey memandang sebuah peristiwa sejarah sebagaimana ia memandang
dunia yaitu dalam dua wajah, wajah luar (eksterior) dan wajah dalam
(interior). Secara eksterior, suatu peristiwa mempunyai tanggal dan
tempat khusus atau tertentu; secara interior peristiwa itu dilihat
atas dasar kesadaran atau keadaan sadar. Kedua dimensi dari peristiwa
sejarah ini tidak bernilai sama. Bahkan dapat dikatakan bahwa kedua
dimensi itu saling bergantung satu sama lain. Eksterior sebagai
sesuatu yang riil pastinya mengandung nilai yang abstrak atau
interior, Hermeneutik sebagai sebuah teori interpretasi digunakan
untuk mengungkapkan interioritas eksterior. Dalam kebebasanya yang
inheren manusia membayangkan sebuah tema di dalam angan-angan dan
mengevaluasi tema tersebut menurut kebebasannya. Bila seorang
sejarawan berdiri ditengah-tengah reruntuhan dan memandangnya sebagai
peninggalan masa lampau, sejarawan tersebut mengetahui person-person
dan segala perbuatannya seakan-akan bermunculan dalam benaknya dengan
segala corak dan warnanya sendiri yang khas. Sejarawan itu kemudian
"mengaktifkan kembali" segala peristiwa yang ada dengan
bantuan data yang terdapat dalam reruntuhan tersebut. karya semacam
itulah yang disebut hermeneutik atau interpretasi.
Dengan teori hermeneutik ini, penulis mencoba
menganalisa data yang telah terhimpun untuk menjelaskan nilai aqidah,
syari'ah dan akhlak sacara sendiri-sendiri. Selain itu penulis
mencoba memaparkan latar belakang dilakukannya tradisi Sedekah
Bumi. Dengan pendekatan antropologi penulis menganalisa dapatkah
nilai-nilai diatas mendasari
perilaku keagamaan penganut tradisi tersebut.
8. DATA DAN SUMBERNYA
Jenis
penelitian yang akan penulis lakukan ini berupa penelitian lapangan
dengan menggunakan pendekatan kualitatif,
yaitu penelitian yang prosedurnya menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata yang
tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang diamati”.
(Robert Begdan dan Steven J yang dikutip Lexy Moelong, 1995:3)
9. METODE PENGUMPULAN
DATA
Metode yang akan digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai
berikut:
a.
Metode Observasi
Metode
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap
gejala yang tampak pada penelitian. (Handari Nawawi, 1990:100).
Metode ini digunakan untuk mengamati kegiatan ritual budaya Sedekah
Bumi yang dilestarikan di desa Kedung jaran yang notabene tanah
kelahiran penulis.
b. Metode Interview atau wawancara
dilakukan dengan bertatap muka dan mendengarkan secara langsung
informasi-informasi dan keterangan-keterangan. Penulis akan melakukan
tanya jawab secara langsung kepada pelaku tradisi, orang yang
mengetahui tentang tradisi sedekah bumi. Menurut prosedurnya penulis
melakukan wawancara bebas terpimpin yaitu kombinasi antara wawancara
bebas dan terpimpin dengan menyusun pokok-pokok permasalahan,
selanjutnya dalam proses wawancara berlangsung mengikuti situasi.
10. ANALISIS DATA
Analisis
data menurt Lexy. J. Moelong adalah “Proses mengatur urutan data,
mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan uraian dasar,
sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja
yang disaran untuk menganalisis data”.(Lexy J. Moelong, 1995: 112).
Untuk menganalisis yang terkumpul penulis akan menggunakan analisis
deskriptif kualitif. Artinya, data yang muncuk berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang atau perilaku yang diamati yaitu
melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang diproses melalui
pencatatan dan lain-lain yang kemudian disusun dalam teks yang
diperluas. (Miles, M.B, and AM. Huberman, 1992:15).
Data yang diperoleh akan dianalisis secara berurutan dan
interaksionis yang terdiri dari tiga tahap, yaitu: (1) reduksi data,
(2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan atau verifikasi.
(Miles, MB., And AM. Huberman, 1992:16).
Pertama,
setelah pengumpulan data selesai dilakukan, langkah selanjutnya
adalah reduksi data yaitu menggolongkan , mengarahkan, membuang yang
tidak perlu dan pengorganisasian sehingga data terpilah-pilah. Kedua,
data yang telah direduksi akan disajikan dalam bentuk narasi. Ketiga,
penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap kedua
dengan mengambil kesimpulan.
Metode berfikir yang akan penulis gunakan untuk menganalisa
penelitian ini adalah metode penelitian Induktif dan Deduktif. Metode
deduktif adalah suatu penarikan kesimpulan yang dimulai dari
pernyataan yang bersifat khusus menuju pada pernyataan yang sifatnya
umum (Arikunto, 1992: 159). Sedangkan metode Induktif yaitu suatu
penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan umum menuju pada
pernyataan yang sifatnya khusus” (Sutrisno Hadi, 1993: 97).
11. DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat,
Kebudayaan Jawa (
Jakarta: Balai Pustaka, 1984 ), hlm. 322.
A. Syahri, Implementasi Agama Islam Pada
Masyarakat ( Jakarta: Depag, 1985), hlm. 2.
Budiono Herusatoto, Simbolisme Dalam Budaya Jawa
(Yogyakarta: Hanindita 2001), hlm. 1.
Simuh, Sufisme Jawa (Yogyakarta: Bentang
Budaya, 1999), hlm. 130.
Clifford Geertz, Abangan, Santri dan Priyayi
Dalam Masyarakat Jawa, Terj. Aswab Mahasin (Jakarta: Pustaka
Jawa, 1983), hlm. 8.
Ismawati, “Budaya dan Kepercayaan Jawa Pra-Islam”,
dalam Islam dan Kebudayaan Jawa, editor Darori Amin
(Yogyakarta: Gama Media, 2000), hlm. 7.
Muhamad Hisyam, Beberapa Aspek Akulturasi Islam
di Jawa (skripsi S-1 di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, 1978).
Sartono Kartodirjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam
Pendekatan Sejarah (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1991),
hlm. 4.
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi
(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1990), hlm. 35-36 & 44
Abudin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 35.
Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah,
Wacana Pergerakan Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1996), hlm.
63.
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Bahasa Indonesia
(Jakarta: Balai Pustaka, 1976), hlm. 1054.
E.Sumaryono, Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat
(Yogyakarta: Kanisius, 1999), hlm. 47.
Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah:
Dasar Metode dan Tehnik (Bandung: Tarsito, 1980), hlm. 123 &
135
Rabu, 04 Januari 2012
Senin, 26 Desember 2011
Pemikiran Pendidikan Naquib al-Attas
Posted By:
Yasin Achmad
on 21.18
BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan bagian vital dalam kehidupan manusia. Pendidikan (terutama Islam) dengan berbagai coraknya berorientasi memberikan bekal kepada manusia (peserta didik) untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, semestinya pendidikan (Islam) selalu diperbaharui konsep dan aktualisasinya dalam rangka merespon perkembangan zaman yang selalu dinamis dan temporal, agar peserta didik dalam pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan hidup setelah mati (eskatologis); tetapi kebahagiaan hidup di dunia juga bisa diraih.
Dalam kenyataannya, di kalangan dunia Islam telah muncul berbagai isu mengenai krisis pendidikan dan problem lain yang amat mendesak untuk dipecahkan. Inilah yang menuntut agar selalu dilakukan pembaharuan (modernisasi) dalam hal pendidikan dan segala hal yang terkait dengan kehidupan umat Islam. Dewasa ini, pendidikan Islam di seluruh dunia sedang menghadapi tantangan yang sangat berat seiring dengan datangnya era globalisasi dan informasi. Tidak dapat dipungkiri betapa pengaruh Barat pada dunia Islam sangat mempengaruhi alur perjalanan kaum muslim terutama dalam bidang pendidikan.
Menurut Al-Attas (1984) percabangan sistem pendidikan yang ada antara tradisional-modern telah membuat lambang kejatuhan umat Islam. Jika hal itu tidak ditanggulangi maka akan mendangkalkan dan menggagalkan perjuangan umat Islam dalam rangka menjalankan amanah yang telah diberikan Allah SWT. Allah telah menjadikan umat manusia di samping sebagai hamba-Nya juga sebagai khalifah di muka bumi. Keadaan umat Islam jika ingin kembali bangkit memegang andil dalam sejarah sebagaimana di masa kejayaannya, amat ditentukan oleh sejauh mana kemampuannya dalam mengatasi problematika pendidikan yang sedang dialaminya.
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, termasuk salah satu pemikir dan pembaharu pendidikan Islam dengan ide-ide segarnya. Al-Attas tidak hanya sebagai intelektual dalam hal pendidikan dan persoalan umum umat Islam, tetapi juga pakar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Ia juga dianggap sebagai tokoh penggagas Islamisasi ilmu pengetahuan yang mempengaruhi banyak tokoh lainnya. Ia secara sistematis merumuskan strategi Islamisasi ilmu dalam bentuk kurikulum pendidikan untuk umat Islam. Salah satu gagasannya yang cukup menarik adalah menawarkan term ta`dib sebagai dasar konsep pendidikan Islam.
Meski demikian, ide-ide Al-Attas tentang Islamisasi ilmu pengetahuan dalam pendidikan Islam banyak memperoleh tantangan dari para pemikir yang terlahir dari dunia Barat. Terlepas dari itu, Al-Attas telah dikenal sebagai filosof pendidikan Islam yang sampai saat ini kesohor di kalangan umat Islam dunia dan juga sebagai figur pembaharu (person of reform) pendidikan Islam. Respon positif ataupun negatif dari para intelektual yang ditujukan kepada Al-Attas menjadikan kajian terhadap pemikiran Al-Attas semakin menarik.
BAB II
PEMBAHASAN
A. BIOGRAFI
Nama lengkap Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah Syed Muhammad Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin bin Muhammad al-Attas. Beliau lahir di Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 5 september 1931. Ia adik kandung dari Prof. DR. Hussein Al-Attas, seorang ilmuwan dan pakar sosiologi di Univeritas Malaya, Kuala Lumpur Malaysia. Ayahnya bernama Syed Ali bin Abdullah AL-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raguan Al-Idrus, keturunan kerabat raja-raja Sunda Sukapura, Jawa Barat. Ayahnya berasal dari Arab yang silsilahnya merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf yangterkenal dari kalangan sayid.
Nama lengkap Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah Syed Muhammad Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin bin Muhammad al-Attas. Beliau lahir di Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 5 september 1931. Ia adik kandung dari Prof. DR. Hussein Al-Attas, seorang ilmuwan dan pakar sosiologi di Univeritas Malaya, Kuala Lumpur Malaysia. Ayahnya bernama Syed Ali bin Abdullah AL-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raguan Al-Idrus, keturunan kerabat raja-raja Sunda Sukapura, Jawa Barat. Ayahnya berasal dari Arab yang silsilahnya merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf yangterkenal dari kalangan sayid.
Riwayat pendidikan Prof. DR. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, dimulai sejak ia masih berusia 5 tahun. Ketika ia berada di Johor Baru, tinggal bersama dan di bawah didikan saudara ayahnya Encik Ahmad, kemudian dengan Ibu Azizah hingga perang kedua meletus. Pada tahun 1936-1941, ia belajar di Ngee Neng English Premary Schoool di Johor Baru. Pada zaman Jepang ia kembali ke Jawa Barat selama 4 tahun. Ia belajar agama dan bahasa Arab Di Madrasah Al-Urwatul Wutsqa di Sukabumi Jawa Barat Pada tahun 1942-1945. Tahun 1946 ia kemabali lagi ke Johor Baru dan tinggal bersama saudara ayahnya Engku Abdul Aziz (menteri besar Johor Kala itu), lalu dengan Datuk Onn yang kemudian juga menjadi menteri besar Johor (ia merupakan ketua umum UMNO pertama). Pada tahun 1946, Al-Attas melanjutkan pelajaran di Bukit Zahrah School dan seterusnya di English College Johor Baru tahun 1946-1949. Kemudian masuk tentara (1952-1955) hingga pangkat Letnan. Namun karena kurang berminat akhirnya keluar dan melanjutkan kuliah di University Malaya tahun 1957-1959, lalu melanjutkan di Mc Gill University, Montreal, Kanada, dan mendapat gelar M. A. Tidak lama kemudian melanjutkan lagi pada program pascasarjana di University of London tahun 1963-1964 hingga mendapat gelar Ph. D
B. PEMIKIRANNYA TENTANG PENDIDIKAN
1. Pengertian Pendidikan Islam
1. Pengertian Pendidikan Islam
Ada beberapa istilah yang dipakai untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" yang pengistilahan itu diambil dari lafad bahasa Arab (al-Qur'an) maupun al-sunnah. Misalnya dijumpai kata tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib bahkan ada yang disebut riyadlah. Namun dalam pembahasan berikut ini akan disajikan konsep pendidikan Islam versi Naquib al-Attas. Pemaparan konsep pendidikan Islam dalam pandangan al-Attas lebih cenderung menggunakan istilah (lafad) ta’dib, daripada istilah-istilah lainnya. Pemilihan istilah ta’dib, merupakan hasil analisa tersendiri bagi al-Attas dengan menganalisis dari sisi semantik dan kandungan yang disesuaikan dengan pesan-pesan moralnya.
Sekalipun istilah tarbiyah dan ta’lim telah mengakar dan mempopuler, ia menempatkan ta’dib sebagai sebuah konsep yang dianggap lebih sesuai dengan konsep pendidikan Islam. Dalam penjelasannya (Yunus, 1972:37-38), kata ta’dib sebagaimana yang menjadi pilihan al-Attas, merupakan kata (kalimat) yang berasal dari kata “addaba“ yang berarti memberi adab, atau mendidik.
Sekalipun istilah tarbiyah dan ta’lim telah mengakar dan mempopuler, ia menempatkan ta’dib sebagai sebuah konsep yang dianggap lebih sesuai dengan konsep pendidikan Islam. Dalam penjelasannya (Yunus, 1972:37-38), kata ta’dib sebagaimana yang menjadi pilihan al-Attas, merupakan kata (kalimat) yang berasal dari kata “addaba“ yang berarti memberi adab, atau mendidik.
Dari sini dapat dipahami bahwa yang dimaksudkan dengan Ta'dib dalam terminologi al-Attas adalah peresapan dan penanaman adab pada diri manusia(serdik) dalam proses pendidikan. Disamping itu adab merupakan suatu muatan atau kandungan yang semestinya ditanamkan dalam proses pendidikan Islam. Mengenai adab dalam konteks ini, al-Attas mendefinisikan sebagai berikut:
“Adab berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkatan dan derajat mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmaniah,intelektual serta ruhaniah seseorang”.
Dalam pandangan al-Attas, dengan menggunakan term di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah proses internalisasi dan penanaman adab pada diri manusia. Sehingga muatan substansial yang terjadi dalam kegiatan pendidikan Islam adalah interaksi yang menanamkan adab. Seperti yang diungkapkan al-Attas, bahwa pengajaran dan proses mempelajari ketrampilan betapa pun ilmiahnya tidak dapat diartikan sebagai pendidikan bilamana di dalamnya tidak ditanamkan ‘sesuatu’ (Ismail SM, dalam Abdul Kholiq, dkk., 1999: 275).
Al-Attas melihat bahwa adab merupakan salah satu misi utama yang dibawa Rasulullah yang bersinggungan dengan umatnya. Dengan menggunakan term adab tersebut, berarti menghidupkan Sunnah Rasul. Konseptualisasinya adalah sebagaimana sabdanya: “Tuhanku telah mendidikku (addaba), dengan demikian membuat pendidikanku (ta’dib) yang paling baik”. (HR. Ibn Hibban).
Sesuai dengan ungkapan hadits di atas, bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk menanamkan adab pada diri manusia, agar berhasil dalam hidupnya, baik di dunia ini maupun di akhirat kemudian. Karena itu, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai sebuah wahana penting untuk penanaman ilmu pengetahuan yang memiliki kegunaan pragmatis dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, menurut al-Attas (1990: 222), antara ilmu, amal dan adab merupakan satu kesatuan (entitas) yang utuh. Kecenderungan memilih term ini, bagi al-Attas bahwa pendidikan tidak hanya berbicara yang teoritis, melainkan memiliki relevansi secara langsung dengan aktivitas di mana manusia hidup. Jadi, antara ilmu dan amal harus berjalan seiring Konsep Pendidikan menurut Naquib al-Attas.
Sesuai dengan ungkapan hadits di atas, bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk menanamkan adab pada diri manusia, agar berhasil dalam hidupnya, baik di dunia ini maupun di akhirat kemudian. Karena itu, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai sebuah wahana penting untuk penanaman ilmu pengetahuan yang memiliki kegunaan pragmatis dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, menurut al-Attas (1990: 222), antara ilmu, amal dan adab merupakan satu kesatuan (entitas) yang utuh. Kecenderungan memilih term ini, bagi al-Attas bahwa pendidikan tidak hanya berbicara yang teoritis, melainkan memiliki relevansi secara langsung dengan aktivitas di mana manusia hidup. Jadi, antara ilmu dan amal harus berjalan seiring Konsep Pendidikan menurut Naquib al-Attas.
Al-Attas membantah istilah tarbiyah, sebagaimana yang digunakan oleh beberapa pakar paedagogis dalam konsep pendidikan Islam. Ia berpandangan bahwa term tarbiyah relatif baru dan pada hakikatnya tercermin dari Barat. Bagi al-Attas (1990:64-66) konsep itu masih bersifat generik, yang berarti semua makhluk hidup, bahkan tumbuhan pun ikut terkafer di dalamnya. Dengan demikian, kata tarbiyah mengandung unsur pendidikan yang bersifat fisik dan material. Lebih lanjut, al-Attas menjelaskan bahwa perbedaan antara ta’dib dan tarbiyah adalah terletak pada makna substansinya. Kalau tarbiyah lebih menonjolkan pada aspek kasih sayang (rahmah), sementara ta’dib, selain dimensi rahmah juga bertitik tolak pada aspek ilmu pengetahuan. Secara mendasar, ia mengakui bahwa dengan konsep ta’dib, pendidikan Islam berarti mencakup seluruh unsur-unsur pengetahuan, pengajaran, dan pengasuhan yang baik. Karena itu, di luar istilah ta’dib, bagi al-Attas tidak perlu dipakai.
Dari sini dapat dipahami bahwa menurut al-Attas, hakikat pendidikan Islam adalah Ta'dib, karena istilah tersebut sudah termasuk tarbiyah atau ta'lim, karena menurutnya ta'dib sudah mencakup unsur-unsur pengetahuan(llm), pengajaran(ta'lim), dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Selanjutnya menurut al-Attas jika konsep ta'dib ini tidak diterapkan maka akan muncul akibat-akibat yang serius diantaranya:
pertama,kebingungan dan kesalahan dalam pengetahuan, yang pada gilirannya menciptakan kondisi:
kedua, hilangnya adab di dalam umat. Kondisi yang timbul akibat 1 dan 2 adalah:
ketiga, Bangkitnya pemimpim-pemimpin yaang tidak memenuhi syarat-syarat kepemimpinan yang absah dalam umat Islam, yang tidak memiliki standar moral, intelektual dan spiritual yang tinggi yang dibutuhkan bagi kepemimpinan.
Menurut al-Attas, pendidikan dalam arti Islam adalah sesuatu yang khusus untuk manusa, lebih lanjut ia mengatakan: “Mengingat makna pengetahuan dan pendidikan hanya berkenaan dengan manusia saja, dan sebagai terusannya dengan masyarakat pula, maka pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan mesti paling utama diterapkan pada pengenalan dan pengakuan manusia itu sendiri tentang tempatnya yang tepat, yaitu kedudukannya dan kondisinya dalam kehidupan sehubungan dengan dirinya, keluarganya, kelompoknya atau komunitasnya dan masyarakatnya serta kepada disiplin pribadinya, di dalam mengaktualisasikan dalam dirinya pengenalan dengan pengakuan”.
2. Tujuan Pendidikan Islam
2. Tujuan Pendidikan Islam
Menurut pemikiran Naquib al-Attas yang beranggapan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan kebajikan dalam “diri manusia” sebagai manusia dan sebagai diri individu. Tujuan akhir pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang baik, yakni kehidupan materiil dan spiritualnya. Di samping tujuan pendidikan Islam yang menitikberatkan pada pembentukan aspek pribadi individu, juga mengharapkan pembentukan masyarakat yang ideal tidak terabaikan. Seperti dalam ucapannya, “Karena masyarakat terdiri dari perseorangan maka membuat setiap orang atau sebagian besar diantaranya menjadi orang-orang baik berarti pula menghasilkan suatu masyarakat yang baik” (Al-Attas, 1991:23).
Secara ideal, al-Attas menghendaki pendidikan Islam mampu mencetak manusia yang baik secara universal (al-insan al-kamil). Suatu tujuan yang mengarah pada dua demensi sekaligus yakni, sebagai Abdullah (hamba Allah), dan sebagai Khalifah fi al-Ardl (wakil Allah di muka bumi). Karena itu, sistem pendidikan Islam harus merefleksikan ilmu pengetahuan dan perilaku Rasulullah, serta berkewajiban mewujudkan umat Muslim yang menampilkan kualitas keteladanan Nabi Saw.
Dari diskripsi diatas bisa dipahami bahwa dengan harapan yang tinggi, al-Attas menginginkan agar pendidikan Islam dapat mencetak manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universalis dalam wawasan dan ilmu pengetahuan dengan bercermin kepada ketauladanan Nabi Saw. Pandangan al-Attas tentang masyarakat yang baik, sesungguhnya tidak terlepas dari individu-individu yang baik. Jadi, salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat yang baik, berarti tugas pendidikan harus membentuk kepribadian masing-masing individu secara baik. Karena masyarakat kumpulan dari individu-individu.
3. Sistem Pendidikan Islam
Sebagaimana yang tertuang dalam tujuan pendidikan Islam di atas, bahwa al-Attas mendeskripsikan tujuan tersebut adalah mewujudkan manusia sempurna, insan kamil. Dengan begitu, berarti sistem pendidikan Islam harus memahami seperangkat bagian-bagian yang terkait satu sama lain dalam sistem pendidikan. Maksudnya pendidikan Islam harus mencerminkan aspek manusia itu sendiri, bukannya negara. Perwujudan paling tinggi dan sempurna dari sistem pendidikan adalah Universitas. Menurut al-Attas, Universitas Islam yang dirancang untuk mencerminkan yang universal, harus pula merupakan pencerminan manusia itu sendiri.
Al-Attas berpandangan bahwa seperti manusia yang terdiri dari dua unsur, jasmani dan ruhani, maka ilmu juga terbagi dua katagori, yaitu ilmu pemberian Allah (melalui wahyu ilahi), dan ilmu capaian (yang diperoleh melalui usaha pengamatan, pengalaman dan riset manusia). Al-Attas membuat skema yang menjelaskan kedudukan manusia dan sekaligus pengetahuan. Bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan menurut dia, adalah berian Allah (God Given) dengan mengacu pada fakultas dan indra ruhaniayah manusia. Sedangkan ilmu capaian mengacu pada tingkatan dan indra jasmaniyah.
Menurut al-Attas, bahwa akal merupakan mata rantai yang menghubungkan antara yang jasmani dan yang ruhani, karena akal pada hakikatnya adalah substansi ruhaniyah yang menjadikan manusia bisa memahami hakikat dan kebenaran ruhaniyah. Dengan kata lain, dia mengatakan bahwa ilmu-ilmu agama merupakan kewajiban individu yang menjadi pusat jantung diri manusia.
Jadi, dalam sistem pendidikan Islam ada tiga tahap atau tingkat (rendah, menengah, dan tinggi ) ilmu fardlu ain harus diajarkan tidak hanya pada tingkat rendah, melainkan juga pada tingkat menengah dan tingkat universitas. Karena universitas menurut al-Attas merupakan cerminan sistematisasi yang paling tinggi, maka formulasi kandungannya harus di dahulukan. Seperti yang dijelaskan al-Attas (1991: 41) ruang lingkup dan kandungan pada tingkat universitas harus lebih dahulu dirumuskan sebelum bisa diproyeksikan ke dalam tahapan-tahapan yang lebih sedikit secara berurutan ketingkat yang lebih rendah mengingat tingkat universitas mencerminkan perumusan sistematisasi yang paling tinggi, maka formulasi kandungannya harus didahulukan.
Jadi, dalam sistem pendidikan Islam ada tiga tahap atau tingkat (rendah, menengah, dan tinggi ) ilmu fardlu ain harus diajarkan tidak hanya pada tingkat rendah, melainkan juga pada tingkat menengah dan tingkat universitas. Karena universitas menurut al-Attas merupakan cerminan sistematisasi yang paling tinggi, maka formulasi kandungannya harus di dahulukan. Seperti yang dijelaskan al-Attas (1991: 41) ruang lingkup dan kandungan pada tingkat universitas harus lebih dahulu dirumuskan sebelum bisa diproyeksikan ke dalam tahapan-tahapan yang lebih sedikit secara berurutan ketingkat yang lebih rendah mengingat tingkat universitas mencerminkan perumusan sistematisasi yang paling tinggi, maka formulasi kandungannya harus didahulukan.
Merujuk hal tersebut bisa dipahami bahwa pembenahan dan rekonstruksi terhadap Universitas merupakan sesuatu yang pertama yang harus dilakukan sebab, ia akan menjadi model bagi level-level dibawahnya. Bila tidak demikian, artinya jika usaha perumusan ruang lungkup dan kandungan dimulai dari tingkat yang paling rendah dikhawatirkan tidak akan berhasil lantaran tidak adanya model yang lengkap yang bertindak sebagai kriteria bagi perumusan ruang lingkup dan kandungan tersebut.
Al-Attas mengklasifikaskan ilmu menjadi dua macam, yakni ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu rasional, intelektual dan filosofis. Yang termasuk ilmu-ilmu agama misalnya: al-Qur’an; (pembacaan dan penafsirannya). Al-Sunnah; (kehidupan Nabi, sejarah dan pesan para rasul sebelumnya, hadits dan riwayat-riwayat otoritasnya). Al-Syari’ah; (Undang-undang das hukum, prinsip-prinsip dan praktek-praktek Islam; Islam, iman ihsan). Teologi (Tuhan, esensi-Nya, sifat-sifat dan nama-nama-Nya, serta tindakan-tindakan-Nya). Tasawuf (Pikologi, kosmologi, dan antologi), dan ilmu bahasa atau Linguistik (bahasa Arab, tata bahasa, leksikografi dan kesusatraan).
Sedangkan yang termasuk ilmu rasional dan sejenisnya adalah ilmu-ilmu kemanusiaan, ilmu-ilmu alam, dan ilmu-ilmu terapan. Menururt al-Attas, bagian yang termasuk ilmu kemanusian seharusnya ditambah dengan pengetahuan Islam. Karena semua disiplin ilmu harus bertolak kepada Islam. Karena itu ia menganjurkan agar pengetahuan tersebut ditambahkan disiplin-disiplin baru yang berkaitan dengan hal berikut ini:
1. Perbandingan agama dari sudut Islam
2. Kebudayaan dan peradaban Barat, khususnya kebudayaan dan peradaban yang selama ini dan di masa datang berbenturan dengan Islam.
3. Ilmu-ilmu linguistik; bahasa-bahasa Islam, tata bahasa, dan literatur.
4. Sejarah Islam; pemikiran kebudayaan dan peradaban Islam, perkembangan ilmu-ilmu sejarah Islam, filsafat-filsafat sains Islam, Islam sebagai sejarah dunia (al-Attas, 1990:91).
Dari diskripsi diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sesuai dengan pandangan al-Attas tentang ilmu, ia melihat bahwa Universitas Islam tidak dapat mencontoh begitu saja pada Universitas Barat yang senantiasa memisahkan ilmu pengetahuan dan nilai dalam dua bidang yang dipisahkan oleh ruang hampa. Universitas Islam mesti mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan nilai demi terwujudnya manusia ideal, yaitu manusia beradab.
C. AKTUALISASI KONSEP AL-ATTAS DALAM KONTEKS PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER
1. Corak Pemikiran Pendidikan
Apabila ditelaah dengan cermat, format pemikiran pendidikan yang ditawarkan oleh Al-Attas sebagaimana telah dideskripsikan, tampak jelas bahwa dia berusaha menampilkan wajah pendidikan Islam sebagai suatu pendidikan terpadu.
Hal tersebut dapat secara jelas dilihat dari tujuan pendidikan yang dirumuskannya, yakni terwujudnya manusia yang 'baik', yaitu manusia yang universal(Al-Insan Al-Kamil). Insan kamil yang dimaksud adalah manusia yang bercirikan: Pertama; manusia yang seimbang, memiliki keterpaduan dua dimensi kepribadian; a). dimensi isoterikvertikal yang intinya tunduk dan patuh kepada Allah dan b). dimensi eksoterik, dialektikal, horizontal, yaitu membawa misi keselamatan bagi lingkungan sosial alamnya. Kedua; manusia seimbang dalam kualitas pikir, dzikir dan amalnya (Achmadi, 1992: 130). Maka untuk menghasilkan manusia seimbang yang bercirikan tersebut merupakan suatu keniscayaan adanya upaya maksimal dalam mengkondisikan lebih dahulu paradigma pendidikan yang terpadu.
Dari deskripsi di atas, dapat ketahui bahwa orientasi pendidikan Al-Attas adalah mengarah pada pendidikan yang bercorak moral religius yang tetap menjaga prinsip keseimbangan dan keterepaduan sistem. Hal tersebut terlihat dalam konsepsinya tentang Ta’dib (adab) yang menurutnya telah mencakup konsep ilmu dan amal. Di situ dipaparkan bahwa setelah manusia dikenalkan akan posisinya dalam tatanan kosmik lewat proses pendidikan, ia diharapakan dapat mengamalkan ilmunya dengan baik di masyarakat berdasarkan adab, etika dan ajaran agama. Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi pertimbangan nilai-nilai dan ajaran agama.
Hal itu merupakan indikator bahwa pada dasarnya paradigma pendidikan yang ditawarkan Al-Attas lebih mengacu kepada aspek moral-transendental (afektif) meskipun juga tidak mengabaikan aspek kognitif (sensual–logis) dan psikomotorik (sensual-empiris). Hal ini relevan dengan aspirasi pendidikan Islami, yakni aspirasi yang bernafaskan moral dan agama. Karena dalam taksonomi pendidikan Islami, dikenal adanya aspek transendental, yaitu domain iman disamping tiga domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Domain Iman diperlukan dalam pendidikan Islam, karena ajaran Islam tidak hanya menyangkut hal-hal yang rasional, tetapi juga menyangkut hal-hal yang supra rasional, dimana akal manusia tidak akan mampu menangkapnya, kecuali didasari dengan iman, yang bersumber dari wahyu, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits. Domain Iman merupakan titik sentral yang hendak menentukan sikap dan nilai hidup peserta didik, dan dengannya pula menentukan nilai yang dimiliki dan amal yang dilakukan.
2. Kondisi obyektif pendidikan Islam dewasa ini
Untuk memotret bagaimana kondisi dunia pendidikan Islam dewasa ini, setidaknya bisa dicerna pandangan dan penilaian kritis para cendekiawan muslim, dimana secara makro dapat disimpulkan bahwa ia masih mengalami keterjajahan oleh konsepsi pendidikan Barat. Walaupun statemen ini berupa tesis atau hipotesa yang perlu dikaji ulang, tetapi ia sangat penting sebagai cermin dan refleksi untuk memperbaiki wajah pendidikan Islam yang dicita-citakan.
Prof. Dr. Isma’il Raji Al-Faruqi dalam karya monumentalnya islamization of knowlegde: general principles and workplan mensinyalir bahwa kondisi umat Islam saat ini sangat memprihatinkan, berada di bawah anak tangga bangsa-bangsa terbawah. Al-Faruqi meyakini bahwa kondisi umat islam yang memprihatinkan ini, disebabkan oleh sistem pendidikan yang dipakai jiplakan dari sistem pendidikan Barat, baik materi maupun metodologinya (AL-Faruqi, 1984:17).
Tidak bisa dipungkiri, bahwa masyarakat Islam di seluruh dunia sedang berada dalam arus perubahan yang sangat dahsyat seiring datangnya era globalisasi dan informasi. Sebagai masyarakat mayoritas dalam dunia ketiga, sungguhpun telah berusaha menghindari pengaruh westernisasi, tetapi dalam kenyataannya modernisasi yang diwujudkan melalui pembangunan berbagai sektor termasuk pendidikan, intervensi dan westernisasi tersebut sulit dielakkan.
Sehubungan dengan itu Fazlur Rahman Anshari yang selanjunya dikutip oleh Muhaimin, menyatakan : bahwa dunia Islam saat ini menghadapi suatu krisis yang belum pernah dialami sepanjang sejarahnya, sebagai akibat dari benturan peradaban Barat dengan dunia Islam.
Khursyid Achmad, seorang pakar muslim asal Pakistan, mencatat empat kegagalan yang ditemui oleh sistem pendidikan Barat yang liberal dan sekuler, yaitu: Pertama, pendidikan telah gagal mengembangkan cita-cita kemasyarakan di kalangan pelajar. Kedua, pendidikan semacam ini gagal menanamkan nilai moral dalam hati dan jiwa generasi muda. Pendidikan semacam ini hanya memenuhi tuntutan pikiran, tetapi gagal memenuhi kebutuhan jiwa. Ketiga, pendidikan liberal membawa akibat terpecah belahnya ilmu pengetahuan. Ia gagal menyusun atau menyatukan ilmu dalam kesatuan yang utuh. Empat, selanjutnya pendidikan liberal menghasilkan manusia yang tiadak mampu menghadapi masalah kehidupan yang mendasar. (Achmad, 1992:22-23).
Sementara Al-Attas melihat bahwa universitas modern (baca:Barat) tidak mangakui eksistensi jiwa atau semangat yang ada pada dirinya, dan hanya terikat pada fungsi administratif pemeliharaan pembangunan fisik.
Dari berbagai pemaparan di atas Dapat disimpulkan bahwa kondisi pendidikan dewasa ini, secara makro telah terkontaminasi dan terinvensi konsep pendidikna Barat. Dimana paradigma pendidikan Barat tersebut secara garis besar dapat dikatakan hanya mengutamakan pengejaran pengetahuan yang menitik beratkan pada segi teknik empiris, sebaliknya tidak mengakui eksistensi jiwa, tidak mempunyai arah yang jelas serta jauh dari landasan spiritual.
3. Menuju paradigma pendidikan Islam
Melihat kondisi pendidikan dewasa ini sebagaimana telah dideskripsikan, maka peniruan terhadap konsepsi pendidikan Barat harus dihentikan, karena tidak sesuai dengan dengan cita-cita pendidikan Islam. Sebaliknya merupakan suatu keniscayaan untuk mencari paradigma pendidikan yang paling sesuai dengan cita-cita islam.
Dalam wacana ilmiah, setidaknya dapat dikemukakakan beberapa alasan mendasar tentang pentingnya realisasi paradigma pendidikan Islam. Pertama, Islam sebagai wahyu Allah yang meruapakan pedoman hidup manusia untuk mencapia kesejahteraan di dunia dan akherat, baru bisa dipahami, diyakini, dihayati dan diamalkan setelah melalui pendidikan. Disamping itu secara fungsional Nabi Muhammad, sendiri di utus oleh Allah sebagai pendidikan utama manusia. Kedua, ilmu pendidikan sebagai ilmu humaniora juga termasuk ilmu normatif, sebab ia terikat dengan norma-norma tertentu. Disini nilai-nilai Islam sangat memadai untuk dijadikan sentral norma dalam ilmu pendidikan itu.
Ketiga, dalam memecahkan dan menganalisa berbagai masalah pendidikan selama ini cenderung mengambil sikap seakan-akan semua permasalahn pendidikan, baik makro maupun mikro diyakini dapat diterangkan dengan teori-teori atau filsafat pendidikan Barat, padahal yang disebut terakhir tadi bersifat sekuler. Oleh karena itu, nilai-nilai ideal Islam mestinya akan lebih sesuai untuk menganalisa secara kritis fenomena kependidikan (Lihat Achmadi, 1992: viii-ix).
4. Aktualisasi konsep Al-Attas dalam pendidikan Islam masa kini
Berdasarkan pada fenomena dan kondisi obyektif dunia pendidikan masa kini pada umumnya dan pendidikan Islam pada khususnya, maka pemikiran pendidikan Islam yang terformula dalam konsep ta’dib yang ditawarkan Al-Attas, sungguh memilki relevansi dan signifikansi yang tinggi serta layak dipertimbangkan sebagai solusi alternatif untuk diaktualisasikan dan di implementasikan dalam dunia pendidikan Islam. Karena pada dasarnya ia merupakan konsep pendidikan yang hendak mengintegrasikan dikhotomi ilmu pengetahuan, menjaga keseimbangan-equilibrium, bercorak moral dan religius. Secara ilmiah Al-Attas telah mengemukakan proposisi-proposisinya sehingga menjadi sebuah konsep pendidikan yang sangat jelas. Sehingga bukanlah suatu hal yang naif bahwa statement Al-Attas ini merupakan sebuah jihad intelektual dalam menemukan paradigma pendidikan Islam. Bila dicobakan untuk berdialog dengan filsafat ilmu, apa yang diformulasikan oleh Al-Attas dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik dari dataran ontologis, epistemologis maupun aksiologis.
BAB III
KESIMPULAN
Dari berbagai deskripsi di atas, dapat ketahui bahwa secara orientasi pendidikan Al-Attas adalah mengarah pada pendidikan yang bercorak moral religius yang tetap menjaga prinsip keseimbangan dan keterpaduan sistem. Hal tersebut terlihat dalam konsepsinya tentang Ta’dib (adab) yang menurutnya telah mencakup konsep ilmu dan amal.
Pada dasarnya paradigma pendidikan yang ditawarkan Al-Attas lebih mengacu kepada aspek moral-transendental (afektif) meskipun juga tidak mengabaikan aspek kognitif dan psikomotorik. Hal ini relevan dengan aspirasi pendidikan Islami, yakni aspirasi yang bernafaskan moral dan agama. Apabila ditelaah dengan cermat pula, format pemikiran pendidikan yang ditawarkan oleh Al-Attas, tampak jelas bahwa dia berusaha menampilkan wajah pendidikan Islam sebagai suatu sistem pendidikan terpadu.
Jadi Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan diatas, maka dapatlah ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:
1. penetapan konsep yang tepat untuk digunakan dalam pendidikan Islam sebagaimana didefinisikan, dalam hal ini adalah Ta’dib, bukannya Tarbiyah atau Ta’lim. Hal ini dikarenakan dalam ta’dib itu sendiri sudah tercakup kedua istilah tersebut,
2. tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan yang dimaksudkan al-Attas adalah insan kamil atau manusia universal. Hal ini merujuk pada pribadi Nabi saw, yang merupakan perwujudan manusia sempurna, sedangkan pendidikan diarahkan pada terwujudnya potensi dan bawaan manusia sehingga bisa sedekat mungkin menyerupai Nabi saw.
3. Melihat realita dalam dunia pendidikan dewasa ini, kiranya menuntut untuk mengubah konsep dasar pendidikan Islam yang selama ini digunakan dalam pendidikan Islam, hal ini dikarenakan sifat-sifat konsep tersebut yang tidak sesuai dengan konsep dasar pendidikan Islam sebagaimana yang dikehendaki.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul khaliq dkk.Pemikiran Pendidikan Islam .“kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer” IAIN Walisanga dan Pustaka Pelajar. Semarang: 1999
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam dan Sekularisme. penerbit pustaka. Bandung : 1981.
http://rovensmanjuh.blogspot.com/2011/09/konsep-pendidikan-menurut-syed.muh.naquib.al-attass
Langganan:
Postingan (Atom)